Showing posts with label Wisata Darat. Show all posts
Showing posts with label Wisata Darat. Show all posts

Monday, May 13, 2013

Banda Neira, Serpihan Surga di Timur Indonesia

Perjalanan ke Banda Neira, Maluku, mengingatkan kembali kenangan 18 tahun yang lampau ketika saya menginjakkan kaki di pulau tersebut. Kalau membuka peta Maluku, letak Banda Neira berada di tenggara Kota Ambon. Pilihan transportasi hanya ada dua melalui laut atau udara. Itupun tidak setiap hari tersedia. Pulau Banda Neira merupakan pulau utama dalam gugusan Kepulauan Banda. Meskipun bukan pulau terbesar, namun pulau yang merupakan ibu kota Kecamatan Banda ini menyimpan berbagai obyek wisata alam, sejarah, dan bahari yang sangat layak untuk dikunjungi. 

Memori 18 tahun lalu kembali berputar ketika pesawat Casa 212 Merpati Nusantara Airlines dengan mulus lepas landas dari Bandara Pattimura, Ambon, Sabtu (4/5/2013) pagi menuju Banda Neira. Ini merupakan penerbangan perintis Merpati setelah selama tiga tahun tidak diterbangi. Langit cerah. Capt Bambang Tri Handoko selaku pilot dan Wan Emran sebagai kopilot dengan ramah menyambut kami yang hanya terdiri dari empat penumpang, dua penumpang domestik, dan dua turis asing. Menurut Capt. Bambang, penerbangan dari Ambon menuju Banda Neira harus dilakukan di pagi hari. "Kalau (terbang) di atas jam 10 sangat riskan. Soalnya cuaca dan angin di Banda Neira sulit diprediksi," katanya. Penerbangan selama 50 menit menuju Banda Neira hanya ditemani birunya langit dan birunya Laut Banda. Beruntung cuaca tetap cerah selama perjalanan. Menjelang mendarat, landasan di Banda Neira terlihat jelas. Demikian pula Gunung Api yang ada di depan Pulau Neira juga sama jelas dan berdiri kokoh seperti mengucapkan 'Selamat Datang' di Banda Neira. Tidak ada yang berubah dengan Bandara Banda Neira. Masih tetap sepi. Maklum saja, Merpati hanya terbang tiga kali seminggu ke Banda Neira. Apalagi setiap pagi dan sore, landasan pacu sering dipakai untuk olah raga warga Banda Neira. Yang mencolok adalah taman-taman di bandara kurang terawat. Beda dengan kondisi 18 tahun yang lalu. Kala itu taman tertata rapi dan enak dipandang. Penumpang yang turun dari pesawat langsung bisa merasakan betapa indahnya bandara ini. Merupakan pemandangan yang biasa, sepanjang jalan di Banda Neira menjadi tempat menjemur pala. Tak disangkal lagi, pala merupakan daya tarik sehingga Portugis, Belanda, Spanyol dan Inggris berlomba-lomba mengarungi lautan beribu-ribu kilometer menuju Banda hanya untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di sini. Pala, saat itu, pala laksana emas karena sangat mahal di pasar Eropa. 

Tiba Banda Neira, kunjungan pertama saya adalah ke Benteng Belgica. Ini merupakan benteng VOC yang dibangun di atas sebuah bukit dan ditempuh hanya 10 menit berjalan kaki dari Delfica Guest House. Benteng ini berada di sebelah barat daya Pulau Neira dan terletak pada ketinggian 30 meter dari permukaan laut. Sungguh mengagumkan melihat pemandangan di sekeliling saat berdiri di benteng yang dibangun pada tahun 1611 di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Pieter Bot ini. Karena posisinya yang strategis, sehingga dari sini Anda bisa melihat ke segala penjuru pulau. Kala itu keberadaan Benteng Belgica memudahkan VOC mengawasi kapal-kapal yang keluar masuk Banda. Benteng Belgica dibangun dengan gaya bangunan persegi lima yang berada di atas bukit, namun apabila dilihat dari semua penjuru niscaya hanya akan terlihat 4 buah sisi. Konstruksi benteng terdiri atas dua lapis bangunan dan untuk memasukinya, pengunjung atau wisatawan harus menaiki anak tangga. Di bagian tengah benteng terdapat sebuah ruang terbuka luas untuk para tahanan. Di tengah ruang terbuka, pengunjung bisa melihat dua buah sumur rahasia yang konon menghubungkan benteng dengan pelabuhan dan Benteng Nassau yang berada di tepi pantai. Menurut sejarah, benteng ini sebenarnya merupakan salah satu benteng peninggalan Portugis yang awalnya berfungsi sebagai pusat pertahanan, namun pada masa penjajahan Belanda, Benteng Belgica beralih fungsi untuk memantau lalu lintas kapal dagang. 

Selanjutnya tahun 1622 oleh JP Coen benteng ini diperbesar. Tahun 1667 diperbesar lagi oleh Cornelis Speelman. Berikutnya Gubernur Jenderal Craft van Limburg Stirum memerintahkan agar benteng ini dipugar dan menjadi markas militer Belanda hingga tahun 1860. Uniknya pada setiap sisi benteng terdapat sebuah menara. Untuk menuju puncak menara tersedia tangga yang mana Anda harus hati-hati menaikinya karena posisi tangga nyaris tegak dan lubang keluar yang sempit. Setelah bersusah payah menaiki tangga, sampai saya di puncak tangga. Rasa capek seketika terbayar oleh panorama yang indah. Dari sini saya bisa menikmati pulau-pulau di sekitar Pulau Neira seperti Pulau Banda Besar, Gunung Api dan birunya Laut Banda. Belum lagi hilir mudiknya perahu nelayan. Wow... indahnya. Selesai berkeliling Benteng Belgica, saya dan Fikri ditemani Bahri menuju Istana Mini Neira. VOC kala itu membangun kota Banda Neira dengan mendirikan bangunan istana bernama Istana Mini Neira. Istana tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal Gubernur VOC. VOC lebih dahulu membagun istana ini setahun sebelum pembangunan Istana Merdeka di Batavia atau Jakarta. 

Istana Mini Neira menjadi satu-satunya banguan besar dan indah saat itu di kawasan ini. Di depannya terhampar pantai biru yang jernih dan Pulau Banda Besar. Di sekitar Istana Mini dibangun rumah-rumah berukuran besar sebagai tempat tinggal dari petinggi orang Eropa yang datang ke Banda. Ibaratnya berjalan kaki di Kota Banda Neira seperti menyusuri jalan-jalan di Eropa karena banyaknya bangunan beraksitektur Eropa. Hanya saja, lagi-lagi soal perawatan gedung masih perlu menjadi catatan khusus bagi pemerintah. Selesai mengunjungi Istana Mini Neira, saya teringat sebuah tempat yang berisikan berbagai peninggalan penjajah di Banda Neira. Tempatnya di Rumah Budaya Banda Neira dan letaknya persis di depan Delfika Guest House. Di Rumah Budaya ini terdapat berbagai catatat sejarah. Barang-barang peninggalan VOC berupa berbagai jenis meriam, serta beberapa lukisan mengenai situasi pada zaman tersebut. Yang mencolok adalah di ruang utama museum, tergantung sebuah lukisan raksasa yang menceritakan pembantaian orang-orang terpandang di Banda. 

Mereka biasa disebut dengan orang kaya, dan pada masa itu mereka ditawan oleh VOC lalu dibawa ke benteng Nassau. Di depan anak istri serta keluarganya, semua orang terkemuka di Banda tersebut dibunuh secara kejam oleh para samurai yang disewa VOC. Ke luar dari Rumah Budaya Banda Neira, saat berjalan-jalan di pasar Banda Neira, mata saya tertuju pada sebuah bangunan kelenteng berwarna kuning. Namanya Sun Tien Kong yang artinya Rumah Kuasa Tuhan. Kelenteng yang berusia sekitar 300 tahun ini didirikan oleh tukang bangunan dari China. Dalam catatan Johan Sigmund Wurffbain, pengawas VOC berkebangsaan Jerman yang pernah tinggal di Banda menyebutkan, pada abad 17 ada kelenteng Tionghoa di mana kelenteng tersebut berada di dekat kedai minum anggur. Sayang, kondisi kelenteng itu saat ini dalam kondisi kurang terawat. Jangan lupa, saat berkunjung ke Banda Neira, mampirlah ke rumah pengasingan Bung Hatta. Saat ini kondisi rumah pengasingan dari sisi perawatan berbeda jauh dibandingkan 18 tahun yang lampau. Saat itu, kondisi bangunan masih terawat baik. Sekarang kamar Bung Hatta, barang-barang peninggalan dan meja-kursi tempat Bung Hatta mengajar terlihat berdebu. Belum lagi foto-foto yang dipasang di dinding sudah mulai kusam. 

Secara umum, suasana Kota Banda Neira terbilang sepi. Banda Neira mulai ramai ketika kapal Pelni berlabuh. Mendadak para pedagang memadati pasar siap menyambut para penumpang yang turun ke darat untuk membeli makanan dan oleh-oleh khas Banda. Bagi para pedagang, saat-saat seperti inilah yang ditunggu-tunggu. Dagangan mereka laris manis saat penumpang kapal turun ke darat sebelum melanjutkan lagi pelayaran. Begitulah kehidupan di Banda Neira. Serpihan surga di timur Indonesia itu kini semakin ramai didatangi turis, terutama dari Eropa, untuk melihat langsung sisa-sisa peninggalan kolonial, keindahan alamnya dan panorama bawah laut yang sanggup "menghipnotis" wisatawan.

Sumber: Kompas.com

Monday, April 29, 2013

Café Mondo: Pop Culture Indonesia Bercampur Selera Asia

Cafe Mondo

Bagi kalian para penggemar budaya dan musik era pop culture Indonesia tempo dulu, di bilangan Kemang tepatnya di Jalan Kemang Raya nomor 72, Jakarta Selatan, terdapat sebuah café unik bernama Café Mondo. Alasan mengapa café ini sanggat cocok untuk para penggemar pop culture Indonesia tempo dulu terutama adalah karena tempat ini dikemas dengan apik bernuansa serupa.  

Umumnya kalau sebuah café atau restoran menganggkat tema Indonesia, sudah pasti semua dekorasi akan menunjukkan nuansa tradisional Indonesia. Tapi tidak demikian dengan café Mondo. Tempat ini menonjolkan sisi pop culture Indonesia tempo dulu yang masih sangat jarang diangkat ke permukaan oleh café-café sejenis. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pernak-pernik original seperti foto advertorial majalah tempo dulu, memorabilia artis-artis Indonesia tempo dulu saat baru diorbitkan, hinga sampul-sampul majalah tempo dulu yang terpampang dan seakan menyambut setiap tamu yang memasuki tempat ini. Belum lagi pemilihan warna dan tata ruang yang benar-benar mencirikan nuansa tempo dulu.
 DJ Booth Cafe Mondo
Satu yang menjadi ciri khas Café Mondo adalah booth DJ yang menggunakan gerobak asli penjual makanan kaki lima dan diberi nama Orkes Dorong Mondo di depannya. Saat dikonfirmasi kepada pemilik alsan memilih nama tersebut adalah karena beliau terinspirasi banyaknya orkes dorong di jalan-jalan ibu kota yang menurut pandangannya sangatlah otentik. Yang semakin menambah keistimewaan tempat ini lagi, para DJ yang bermain menghangatkan suasana di tempat ini hanya khusus mereka yang memainkan piringan hitam. Ini juga berkaitan dengan kecintaan sang pemilik pada piringan hitam.

Café Mondo terdiri dari 3 lantai dan lahan parkir dimana para tamunya dapat memarkir kendaraan tepat di depan café ataupun di jalan-jalan yan berdekatan dengan tempat ini bila sedang padat-padatnya penunjung. Lantai basement dikhususkan untuk mereka yang merokok sedangkan lantai dua adalah bagi mereka yangg tidak merokok. Lantai tiga dikhususkan bagi par penggemar musik retro pop Indonesia tempo dulu. Di sini dijual berbagai hasil rekaman para artis-artis tempo dulu yang kualitasnya tidak perlu diragukan. Dan satu hal yang pasti, semua materi yang dijual adalah asli, bukan bajakan. Café Mondo yang berspesialisasi pada lunch, dinner, dan coffe ini buka sepanjang minggu dengan jam operasional Senin-Kamis dari jam 11.30 hingga 23.00, Jumat-Sabtu dari jam 11.30-24.00, dan hari Minggu dari pukul 11.30-23.00. harga yangg ditawarkan pun tidaklah mahal hanya berkisar Rp. 15,000 – Rp. 55,000 saja.

Wall Of FamePemilihan makanan dan minuman yang disajikan di Café Mondo tidak terlepas dari campur tangan sang pemilik. Berhubung karena pemilik berasal dari Jepang, maka makanan yang disajikan pun merupakan makanan jenis masakan rumahan khas jepang pilihan seperti Beef Keema Curry with Rice atau Gapao yang berupa nasi hangat bertabur potongan daging cincang berbumbu khas Jepang ditambah telur mata sapi. Seiring perjalanan café ini menu makananpunkini telah semakin beragam mulai dari pembuka hingga penutup yang tentunya masih berkaitan dengan makanan khas Jepang. Baggi anda pecinta mocktail, di café ini tersedia berbaggai pilihan mocktail dengan nama-nama unik yan kadang dapat memancing senyum saat membacanya di set menu. Sebutlah Perawan Tingtingg, Pujaan hati, Janda Hitam, atau Pancuran Biru yang merupakan minuman-minuman favorit yang patut anda coba. Rasanya dijamin unik dan membuat ketagihan.

Bagi anda pecinta tempat makan unik dan pecinta retro pop culture Indonesia tempo dulu, Café mondo adalah tempat yang wajib anda kunjungi. Bukan hanya karena nuansa khas pop culture Indonesia tempo dulu yang sangat kental terpapar di seluruh cafe lewat dekorasi dan tata ruangg nan apik namun juga karena di tempat ini kita bisa mendapatkan hasil rekaman khas artis Indonesia tempo dulu yang asli dan juga makanan dan minuman dengan citarasa yang unik dan mengggugah selera. Selamat berwisata kuliner! Cheers!

Sumber : travelblog.ticktab.com